Sni tebal perkerasan jalan raya






PETUNJUK
PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN LENTUR JALAN RAYA DENGAN METODE ANALISA KOMPONEN

SKBI – 2.3.26. 1987
UDC : 625.73 (02)
















DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DITERBITKAN OLEH YAYASAN BADAN PENERBIT PU

























SKBI – 2.3.26. 1987
UDC : 625.73 (02)

PETUNJUK
PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN LENTUR JALAN RAYA DENGAN METODE ANALISA KOMPONEN

Lampiran nomor 12 Keputusan Menteri Pekerjaan Umum
Nomor 378/KPTS/1987 31 Agustus 1987




KATA PENGANTAR



Kita semua menyadari dan mengetahui, betapa pesatnya ilmu pengetahuan berkembang dan betapa cepatnya teknologi konstruksi melaju.
Kitapun bersepakat bahwa kasus demikian memerlukan tindak lanjut dengan upaya penyesuaian standar-standar konstruksi bangunan yang berlaku di seluruh Indonesia. Dengan demikian, maka akan terwujudlah pembinaan Dunia Usaha Jasa Konstruksi Indonesia.
Dalam hubungan itu maka Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum membantu menyebar luaskan buku-buku SKBI (Standar Konstruksi Bangunan Indonesia) yang telah disahkan dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum 378/KPTS/1987.
Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum dengan ini menyampaikan ucapan terima kasih kepada Badan Penelitian dan Pengembangan P.U./Ketua Pantap SKBI Surat no. UM 0101-KL/222, 3 Oktober 1987 telah memberi izin kepada Badan Penerbit P.U. untuk menerbitkan serta menyebarluaskan buku-buku SKBI tersebut.
Semoga usaha Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum menyebarluaskan buku-buku SKBI ini dapat diambil kegunannya oleh khalayak ramai, terutama bagi mereka yang berkepentingan.



Jakarta, 7 Oktober 1987



Penerbit




DAFTAR ISI

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 378/KPTS/1987 ... v I.            DESKRIPSI................................................................................................ 1
1.6.1.          Tanah Dasar..................................................................................... 4
1.6.2.          Lapis Pondasi Bawah...................................................................... 5
1.6.3.          Lapis Pondasi.................................................................................. 5
1.6.4.          Lapis Permukaan............................................................................. 5
2.1.2.          Angka Ekivalen (E) Beban Sumbu Kendaraan............................... 7
2.1.3.          Lalu Lintas Harian Rata-rata dan Rumus-rumus Lintas Ekivalen . 8 2.2.        Daya Dukung Tanah Dasar (DDT) dan CBR ..................................................................  9
3.3.1.          Perencanaan Perkerasan Jalan Baru............................................... 16
3.3.2.          Perencanaan Perkuatan Jalan Lama............................................... 16
3.3.3.          Perencanaan Konstruksi Bertahap................................................. 16






REPUBLIK INDONESIA MENTERI PEKERJAAN UMUM

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 378/KPTS/1987

TENTANG
PENGESAHAN 33 STANDAR KONSTRUKSI BANGUNAN INDONESIA

Menteri Pekerjaan Umum,

Menimbang :

a.       bahwa pada hakekatnya Standar Konstruksi Bangunan memuat ketentuan- ketentuan teknis konstruksi yang dibakukan dan disusun berdasarkan konsensus semua pihak dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan, keselamatan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta  berdasarkan pengalaman perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan umum;
b.       bahwa kepesatan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi konstruksi, perlu ditindak lanjuti dengan upaya penyesuaian standar-standar konstruksi bangunan yang berlaku di Indonesia sebagai salah satu wujud pembinaan Dunia Usaha Jasa Konstruksi;
c.       bahwa untuk terlaksana maksud tersebut di atas, perlu adanya Keputusan Menteri Pekerjaan Umum mengenai pengesahan Standar Konstruksi  Bangunan (SKBI) yang dapat memedomani unsur aparatur Departemen Pekerjaan Umum dan unsur masyarakat yang berkepentingan dengan proses perencanaan dan pelaksanaan konstruksi.

Mengingat:

1.       Keputusan Presiden RI No. 44 Tahun 1974;
2.       Keputusan Presiden RI No. 45/M Tahun 1983;
3.       Keputusan Presiden RI No. 15 Tahun 1984;
4.       Keputusan Presiden RI No. 20 Tahun 1984;
5.       Keputusan Menteri PU No. 211/KPTS/1984;
6.       Keputusan Menteri PU No. 217/KPTS/1986;






MEMUTUSKAN:



Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PENGESAHAN 33 STANDAR KONSTRUKSI BANGUNAN INDONESIA
KE SATU : Mengsahkan 33 Standar Konstruksi Bangunan Indonesia yang selanjutnya disingkat SKBI berupa buku sebagaimana tercantum dalam daftar lampiran Keputusan Menteri ini dan merupakan bagian tak terpisahkan dari Ketetapan ini.
KE DUA : Buku SKBI berlaku bagi unsur  aparatur  pemerintah  bidang  pekerjaan umum untuk digunakan dalam perjanjian kerja antar pihak-pihak yang bersangkutan dengan bidang konstruksi,  sampai ditetapkannya Standar Nasional Indonesia Bidang Konstruksi.
KE TIGA  :  Buku SKBI disusun berdasarkan matriks hubungan antara Jenis  Buku dan Urutan Tahap Pelaksanaan, yaitu:
a.       Jenis Buku, terdiri dari:
1.       Pedoman;
2.       Petunjuk;
3.       Panduan;
4.       Spesifikasi Produk;
b.       Urutan    Tahap    Pelaksanaan    merupakan    urutan    proses konstruksi, terdiri dari:
1.       Perencanaan meliputi kegiatan:
1.1.        survai (S);
1.2.        investasi (I);
1.3.        desain (D);
2.       Konstruksi (K);
3.       Eksploitasi/Operasi (O);
4.       Pemeliharaan (P);
KE EMPAT : Menugaskan  kepada  Kepala  Badan  Penelitian  dan Pengembangan Pekerjaan Umum, untuk:
a.       menyebarluaskan Buku SKBI;
b.       mengawasi penerapan SKBI;
c.       menampung saran penyempurnaan SKBI.
KE LIMA :  Keputusan  ini  berlaku  sejak  tanggal  ditetapkan,  dengan  ketentuan bahwa segala sesuatunya akan diadakan perbaikan jika ada kesalahan-kesalahan dan disesuaikan sebagaimana mestinya.

TEMBUSAN Keputusan ini disampaikan kepada Yth:
1.       Sdr. Para Menteri Negara Kabinet Pembangunan IV;
2.       Sdr. Ketua Dewan Standarisasi Nasional;
3.       Sdr. Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia;




4.       Distribusi A dan B Departemen Pekerjaan Umum;
5.       Sdr. Kepala Kantor Wilayah Dep. PU seluruh Indonesia;
6.       Sdr. Kepala Dinas PU Propinsi seluruh Indonesia;
7.       Arsip.




Ditetapkan di  : Jakarta
Pada tangal     : 31 Agustus 1987 MENTERI PEKERJAAN UMUM


SUYONO SOSRODARSONO



I.                    DESKRIPSI


1.1.             Maksud dan Tujuan

Perencanaan tebal perkerasan yang akan diuraikan dalam buku ini adalah merupakan dasar dalam menentukan tebal perkerasan lentur yang dibutuhkan untuk suatu jalan raya.
Yang dimaksud perkerasan lentur (flexible pavement) dalam perencanaan ini adalah perkerasan yang umumnya menggunakan bahan campuran beraspal sebagai lapis permukaan serta bahan berbutir sebagai lapisan di bawahnya. Interpretasi, evaluasi  dan kesimpulan-kesimpulan yang akan dikembangkan dari hasil penetapan ini, harus juga memperhitungkan penerapannya secara ekonomis, sesuai dengan kondisi setempat, tingkat keperluan, kemampuan pelaksanaan dan syarat teknis lainnya, sehingga konstruksi jalan yang direncanakan itu adalah yang optimal.

1.2.             Ruang Lingkup

Dasar-dasar perencanaan tebal perkerasan jalan ini meliputi uraian  deskripsi, parameter perencanaan dan metoda pelaksanaan, contoh-contoh dan hasil-hasil perencanaan.

1.3.             Definisi, Singkatan dan Istilah

1.3.1.           Jalur Rencana adalah salah satu jalur lalu lintas dari suatu sistem jalan raya, yang menampung lalu lintas terbesar. Umumnya jalur rencana adalah salah satu jalur dari jalan raya dua jalur tepi luar dari jalan raya berjalur banyak.

1.3.2.           Umur Rencana (UR) adalah jumlah waktu dalam tahun dihitung sejak jalan tersebut mulai dibuka sampai saat diperlukan perbaikan berat atau dianggap perlu untuk diberi lapis permukaan yang baru.

1.3.3.           Indeks Permukaan (IP) adalah suatu angka yang dipergunakan untuk menyatakan kerataan / kehalusan serta kekokohan permukaan jalan yang bertalian dengan tingkat pelayanan bagi lalu lintas yang lewat.

1.3.4             Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) adalah jumlah rata-rata lalu-lintas kendaraan bermotor beroda 4 atau lebih yang dicatat selama 24 jam sehari untuk kedua jurusan.

1.3.5             Angka Ekivalen (E) dari suatu beban sumbu kendaraan adalah angka yang menyatakan perbandingan tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh suatu lintasan beban sumbu tunggal kendaraan terhadap tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh satu lintasan beban standar sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb).

1.3.6             Lintas Ekivalen Permukan (LEP) adalah jumlah lintas ekivalen harian rata- rata dari sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb) pada jalur rencana yang diduga terjadi pada permulaan umur rencana.



1.3.7. Lintas Ekivalen Akhir (LEA) adalah jumlah lintas ekivalen  harian  rata-rata  dari sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb) pada jalur rencana yang diduga terjadi pada akhir umur rencana.

1.3.8  Lintas Ekivalen Tengah (LET) adalah jumlah lintas ekivalen harian rata-rata  dari sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb) pada jalur rencana pada pertengahan umur rencana.

1.3.9.           Lintas Ekivalen Rencana (LER) adalah suatu besaran yang dipakai dalam nomogram penetapan tebal perkerasan untuk menyatakan jumlah lintas ekivalen sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb) jalur rencana.

1.3.10.        Tanah Dasar adalah permukaan tanah semula atau permukaan galian atau permukaan tanah timbunan, yang dipadatkan dan merupakan permukaan  dasar untuk perletakan bagian-bagian perkerasan lainnya

1.3.11.        Lapis Pondasi Bawah adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan tanah dasar.

1.3.12.        Lapis Pondasi adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis permukaan dengan lapis pondasi bawah (atau dengan tanah dasar bila tidak menggunakan lapis pondasi bawah).

1.3.13.        Lapis Permukaan adalah bagian perkerasan yang paling atas.

1.3.14.        Daya Dukung Tanah Dasar (DDT) adalah suatu skala yang dipakai dalam nomogram penetapan tebal perkerasan untuk menyatakan kekuatan tanah dasar.

1.3.15.        Faktor Regional (FR) adalah faktor setempat, menyangkut keadaan lapangan dan iklim, yang dapat mempengaruhi keadaan pembebanan, daya dukung tanah dasar dan perkerasan.

1.3.16.        Indek Tebal Perkerasan (ITP) adalah suatu angka yang berhubungan dengan penentutan tebal perkerasan.

1.3.17.        Lapis Aspal Beton (LASTON) adalah merupakan suatu lapisan pada konstruksi jalan yang terdiri dari agregat kasar, agregat halus, filler dan aspal keras, yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu.

1.3.18.        Lapis Penetrasi Macadam (LAPEN) adalah merupakan suatu lapis perkerasan yang terdiri dari agregat pokok dengan agregat pengunci bergradasi terbuka dan seragam yang diikat oleh aspal keras dengan cara disemprotkan diatasnya dan dipadatkan lapis demi lapis dan apabila akan digunakan sebagai lapis permukaan perlu diberi laburan aspal dengan batu penutup.



1.3.19.        Lapis Asbuton Campuran Dingin (LASBUTAG) adalah campuran yang  terdiri dari agregat kasar, agregat halus, asbuton, bahan peremaja dan filler (bila diperlukan) yang dicampur, dihampar dan dipadatkan secara dingin.

1.3.20.        Hot Rolled Asphalt (HRA) merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang, filler dan aspal keras dengan perbandingan tertentu, yang dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu.

1.3.21.        Laburan Aspal (BURAS) adalah merupakan lapis penutup terdiri dengan ukuran butir maksimum dari lapisan aspal taburan pasir 9,6 mm atau 3/8 inch.

1.3.22.        Laburan Batu Satu Lapis (BURTU) adalah merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam. Tebal maksimum 20 mm.

1.3.23.        Laburan Batu Dua Lapis (BURDA) adalah merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan. Tebal maksimum 35 mm.

1.3.24.        Lapis Aspal Beton Pondasi Atas (LASTON ATAS) adalah merupakan pondasi perkerasan yang terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu, dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas.

1.3.25.        Lapis Aspal Beton Pondasi Bawah (LASTON BAWAH) adalah pada umumnya merupakan lapis perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan tanah dasar jalan yang terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu dicampur dan dipadatkan pada temperatur tertentu.

1.3.26.        Lapis Tipis Aspal Beton (LATASTON) adalah merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang, filler dan aspal keras dengan perbandingan tertentu yang dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu. Tebal padat antara 25 sampai 30 mm.

1.3.27.        Lapis Tipis Aspal Pasir (LATASIR) adalah merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran pasir dan aspal keras yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu.

1.3.28.        Aspal Makadam adalah merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari agregat pokok dan / atau agregat pengunci bergradasi terbuka atau seragam yang dicampur dengan aspal cair, diperam dan dipadatkan secara dingin.

1.4.             Batas-batas Penggunaan

Penentuan tebal perkerasan dengan cara yang akan diuraikan dalam buku ini hanya berlaku untuk konstruksi perkerasan yang menggunakan material berbutir, (granular material, batu pecah) dan tidak berlaku untuk konstruksi perkerasan yang menggunakan batu-batu besar (cara Telford atau Pak laag).



Cara-cara tebal perkerasan jalan, selain yang diuraikan dalam petunjuk ini dapat juga digunakan, asal saja dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan hasil-hasil test oleh seorang ahli.

1.5.             Penggunaan

Petunjuk perencanaan ini dapat digunakan untuk :
-          Perencanaan perkerasan jalan baru (New Construction / Full Depth Pavement).
-          Perkuatan perkerasan jalan lama (Overlay).
-          Konstruksi bertahap (Stage Construction).
Khusus untuk penentuan tebal perkuatan perkerasan jalan lama, penggunaan nomogram 1 sampai dengan 9 (lampiran 1) hanya dapat dipergunakan untuk cara "Analisa Komponen Perkerasan”.
Cara lain yaitu cara "Analisa Lendutan" telah dibahas dalam buku tersendiri, yaitu "Manual Pemeriksaan Perkerasan Jalan dengan Alat Benkelman Beam”, NO. 01/MN/B/1983.
Dalam menggunakan buku petunjuk perencanaan ini, penilaian terhadap perkuatan perkerasan lama harus terlebih dulu meneliti dan mempelajari hasil-hasil laboratorium. Penilaian ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab perencana, sesuai dengan kondisi setempat dan pengalamannya.

1.6.             Perkerasan Jalan

Bagian perkerasan jalan umumnya meliputi : lapis pondasi bawah (sub base course), lapis pondasi (base course), dan lapis permukaan (surface course).


1

2

3


 
D                                                                   Lapis Permukaan

D                                                                   Lapis Pondasi

D                                                                   Lapis Pondasi Bawah



Gambar
Susunan Lapis Perkerasan Jalan


1.6.1.        Tanah Dasar

Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat-sifat dan daya dukung tanah dasar. Umumnya persoalan yang  menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut :
a.       Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) dari macam tanah tertentu akibat beban lalu lintas.
b.       Sifat mengembang dan menyusut dari tanah tertentu akibat perubahan  kadar air.



c.       Daya dukung tanah yang tidak merata dan sukar ditentukan secara pasti pada daerah dengan macam tanah yang sangat berbeda sifat dan kedudukannya, atau akibat pelaksanaan.
d.      Lendutan dan lendutan balik selama dan sesudah pembebanan lalu lintas dari macam tanah tertentu.
e.       Tambahan pemadatan akibat pembebanan lalu lintas dan penurunan yang diakibatkannya, yaitu pada tanah berbutir kasar (granular soil) yang tidak dipadatkan secara baik pada saat pelaksanaan.
Untuk sedapat mungkin mencegah timbulnya persoalan di atas maka tanah dasar harus dikerjakan sesuai dengan "Peraturan Pelaksanaan Pembangunan Jalan Raya" edisi terakhir.

1.6.2.        Lapis Pondasi Bawah

Fungsi lapis pondasi bawah antara lain :
a.       Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk mendukung dan menyebarkan beban roda.
b.       Mencapai efisiensi penggunaan material yang relatif murah agar lapisan- lapisan selebihnya dapat dikurangi tebalnya (penghematan biaya konstruksi).
c.       Untuk mencegah tanah dasar masuk ke dalam lapis pondasi.
d.      Sebagai lapis pertama agar pelaksanaan dapat berjalan lancar.

Hal ini sehubungan dengan terlalu lemahnya daya dukung tanah dasar terhadap roda-roda alat-alat besar atau karena kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengaruh cuaca.
Bermacam-macam tipe tanah setempat (CBR ≥ 20%, PI ≤ 10%) yang relatif lebih baik dari tanah dasar dapat digunakan sebagai bahan pondasi bawah.
Campuran-campuran tanah setempat dengan kapur atau semen portland dalam beberapa hal sangat dianjurkan, agar dapat bantuan yang efektif terhadap kestabilan konstruksi perkerasan.

1.6.3.        Lapis Pondasi

Fungsi lapis pondasi antara lain :
a.       Sebagai bagian perkerasan yang menahan beban roda,
b.       Sebagai perletakan terhadap lapis permukaan.
Bahan-bahan untuk lapis pondasi umumnya harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan beban-beban roda. Sebelum menentukan suatu bahan untuk digunakan sebagai bahan pondasi, hendaknya dilakukan penyelidikan dan pertimbangan sebaik-baiknya sehubungan dengan persyaratan teknik. Bermacam-macam bahan alam / bahan setempat (CBR ≥ 50%, PI ≤ 4%) dapat digunakan sebagai bahan lapis pondasi, antara lain : batu pecah, kerikil pecah dan stabilisasi tanah dengan semen atau kapur.


1.6.4.        Lapis Permukaan
Fungsi lapis permukaan antara lain :



a.       Sebagai bahan perkerasan untuk menahan beban roda
b.       Sebagai lapisan rapat air untuk melindungi badan jalan kerusakan akibat cuaca.
c.       Sebagai lapisan aus (wearing course).
Bahan untuk lapis permukaan umumnya adalah sama dengan bahan untuk lapis pondasi, dengan persyaratan yang lebih tinggi. Penggunaan bahan aspal diperlukan agar lapisan dapat bersifat kedap air, disamping itu bahan aspal sendiri memberikan bantuan tegangan tarik, yang berarti mempertinggi daya dukung lapisan terhadap beban roda lalu lintas.
Pemilihan bahan untuk lapis permukaan perlu dipertimbangkan kegunaan, umur rencana serta pentahapan konstruksi, agar dicapai manfaat yang sebesar- besarnya dari biaya yang dikeluarkan.



II.                 PARAMETER



2.1.             Lalu Lintas

2.1.1.        Jumlah Jalur dan Koefisien Distribusi Kendaraan (C)
Jalur rencana merupakan salah satu jalur lalu lintas dari suatu ruas jalan raya, yang menampung lalu lintas terbesar. Jika jalan tidak memiliki tanda batas jalur, maka jumlah jalur ditentukan dari lebar perkerasan menurut daftar di bawah ini:

Daftar I
Jumlah Lajur Berdasarkan Lebar Perkerasan

Lebar Perkerasan (L)
Jumlah Lajur (n)
L < 5,50 m
1 jalur
5,50 m ≤ L < 8,25 m
2 jalur
8,25 m ≤ L < 11,25 m
3 jalur
11,25 m ≤ L < 15,00 m
4 jalur
15,00 m ≤ L < 18,75 m
5 jalur
18,75 m ≤ L < 22,00 m
6 jalur

Koefisien distribusi kendaraan (C) untuk kendaraan ringan dan berat yang lewat pada jalur rencana ditentukan menurut daftar di bawah ini:

Daftar II
Koefisien Distribusi Kendaraan (C)

Jumlah Lajur
Kendaraan Ringan*)
Kendaraan Berat**)
1 arah
2 arah
1 arah
2 arah
1 lajur
1,00
1,00
1,00
1,000
2 lajur
0,60
0,50
0,70
0,500
3 lajur
0,40
0,40
0,50
0,475
4 lajur
-
0,30
-
0,450
5 lajur
-
0,25
-
0,425
6 lajur
-
0,20
-
0,400

*)   berat total < 5 ton, misalnya mobil penumpang, pick up, mobil hantaran
**) berat total > 5 ton, misalnya, bus, truk, traktor, semi trailler, trailler.

2.1.2.        Angka Ekivalen (E) Beban Sumbu Kendaraan
Angka Ekivalen (E) masing-masing golongan beban sumbu (setiap kendaraan) ditentukan menurut rumus daftar di bawah ini :



Daftar III
Angka Ekivalen (E) Beban Sumbu Kendaraan

Beban Sumbu
Angka Ekivalen
Kg
Lb
Sumbu tunggal
Sumbu ganda
1000
2205
0,0002
-
2000
4409
0,0036
0,0003
3000
6614
0,0183
0,0016
4000
8818
0,0577
0,0050
5000
11023
0,1410
0,0121
6000
13228
0,2923
0,0251
7000
15432
0,5415
0,0466
8000
17637
0,9238
0,0794
8160
18000
1,0000
0,0860
9000
19841
1,4798
0,1273
10000
22046
2,2555
0,1940
11000
24251
3,3022
0,2840
12000
26455
4,6770
0,4022
13000
28660
6,4419
0,5540
14000
30864
8,6647
0,7452
15000
33069
11,4184
0,9820
16000
35276
14,7815
1,2712


2.1.3.       Lalu Lintas Harian Rata-rata dan Rumus-rumus Lintas Ekivalen
a.       Lalu lintas Harian Rata-rata (LHR) setiap jenis kendaraan di tentukan pada awal umur rencana, yang dihitung untuk dua arah pada jalan tanpa median atau masing-masing arah pada jalan dengan median.
b.       Lintas Ekivalen Permulaan (LEP) dihitung dengan rumus sebagai berikut:
n


j
 
LEP = åLHR
j=1
Catatan : j = jenis kendaraan.

x Cj

x E j



c.       Lintas Ekivalen Akhir (LEA) dihitung dengan rumus sebagai berikut:



n
j
 
LEA = LHR
j=1

(1+ i)UR x C

j
 
x E j



Catatan:     i = perkembangan lalu lintas j = jenis kendaraan.

d.      Lintas Ekivalen Tengah (LET) dihitung dengan rumus sebagai berikut: LET = ½ x (LEP + LEA)
e.       Lintas Ekivalen Rencana (LER) dihitung dengan rumus sebagai berikut: LER = LET x FP
Faktor penyesuaian (FP) tersebut di atas ditentukan dengan Rumus: FP = UR/10.




2.2.             Daya Dukung Tanah Dasar (DDT) dan CBR
Daya dukung tanah dasar (DDT) ditetapkan berdasarkan grafik korelasi (gambar 1). Yang dimaksud dengan harga CBR disini adalah harga CBR lapangan atau CBR laboratorium.
Jika digunakan CBR lapangan maka pengambilan contoh tanah dasar dilakukan dengan tabung (undisturb), kemudian direndam dan diperiksa harga CBR-nya. Dapat juga mengukur langsung di lapangan (musim hujan/direndam). CBR lapangan biasanya digunakan untuk perencanaan lapis tambahan (overlay). Jika dilakukan menurut Pengujian Kepadatan Ringan (SKBI 3.3. 30.1987/UDC 624.131.43 (02) atau Pengujian Kepadatan Berat (SKBI 3.3. 30.1987/UDC 624.131.53 (02) sesuai dengan kebutuhan. CBR laboratorium biasanya dipakai untuk perencanaan pembangunan  jalan baru. Sementara ini dianjurkan untuk mendasarkan daya dukung tanah dasar hanya kepada pengukuran nilai CBR. Cara-cara lain hanya digunakan bila telah disertai data-data yang dapat dipertanggungjawabkan. Cara-cara lain tersebut dapat berupa : Group Index, Plate Bearing Test atau R-value. Harga yang mewakili dari sejumlah harga CBR yang dilaporkan, ditentukan sebagai berikut:
a.       Tentukan harga CBR terendah.
b.       Tentukan berapa banyak harga dari masing-masing nilai CBR yang sama dan lebih besar dari masing-masing nilai CBR.
c.       Angka jumlah terbanyak dinyatakan sebagai 100%. Jumlah lainnya merupakan persentase dari 100%.
d.      Dibuat grafik hubungan antara harga CBR dan persentase jumlah tadi.
e.       Nilai CBR yang mewakili adalah yang didapat dari angka persentase 90% (lihat perhitungan pada contoh lampiran 2).



Gambar 1 KORELASI DDT DAN CBR

Catatan:          Hubungan  nilai  CBR  dengan  garis  mendatar  kesebelah  kiri diperoleh nilai DDT.




2.3.             Faktor Regional (FR)

Keadaan lapangan mencakup permeabilitas tanah, perlengkapan drainase, bentuk alinyemen serta persentase kendaraan dengan berat 13 ton, dan kendaraan yang berhenti, sedangkan keadaan iklim mencakup curah hujan rata-rata per tahun.
Mengingat persyaratan penggunaan disesuaikan dengan "Peraturan Pelaksanaan Pembangunan Jalan Raya" edisi terakhir, maka pengaruh keadaan lapangan yang menyangkut permeabilitas tanah dan perlengkapan drainase dapat dianggap sama. Dengan demikian dalam penentuan tebal perkerasan ini, Faktor Regional hanya dipengaruhi oleh bentuk alinyemen (kelandaian dan tikungan), persentase kendaraan berat dan yang berhenti serta iklim (curah hujan) sebagai berikut:

Daftar IV Faktor Regional (FR)

Kelandaian I ( < 6 %)
Kelandaian II (6 – 10 %)
Kelandaian III ( > 10%)
% kendaraan berat
% kendaraan berat
% kendaraan berat
30 %
> 30 %
30 %
> 30 %
30 %
> 30 %
Iklim I < 900 mm/th
0,5
1,0 – 1,5
1,0
1,5 – 2,0
1,5
2,0 – 2,5
Iklim II > 900 mm/th
1,5
2,0 – 2,5
2,0
2,5 – 3,0
2,5
3,0 – 3,5

Catatan: Pada bagian-bagian jalan tertentu, seperti persimpangan, pember-hentian atau tikungan tajam (jari-jari 30 m) FR ditambah dengan 0,5. Pada daerah rawa- rawa FR ditambah dengan 1,0.

2.4.             Indeks Permukaan (IP)

Indeks Permukaan ini menyatakan nilai daripada kerataan / kehalusan serta kekokohan permukaan yang bertalian dengan tingkat pelayanan bagi lalu-lintas yang lewat.
Adapun beberapa nilai IP beserta artinya adalah seperti yang tersebut di bawah ini:
IP =1,0 :     adalah menyatakan permukaan jalan dalam keadaan rusak   berat sehingga sangat mengganggu lalu Iintas kendaraan.
IP = 1,5:     adalah  tingkat  pelayanan  terendah  yang  masih  mungkin    (jalan  tidak terputus).
IP = 2,0:      adalah tingkat pelayanan rendah bagi jalan yang masih mantap
IP = 2,5:      adalah menyatakan permukaan jalan yang masih cukup stabil dan baik.

Dalam menentukan indeks permukaan (IP) pada akhir umur rencana, perlu dipertimbangkan faktor-faktor klasifikasi fungsional jalan dan jumlah lintas ekivalen rencana (LER), menurut daftar di bawah ini:

Daftar V
Indeks Permukaan Pada Akhir Umur Rencana (IP)

LER = Lintas Ekivalen Rencana *)
Klasifikasi Jalan
lokal
kolektor
arteri
tol
< 10
1,0 – 1,5
1,5
1,5 – 2,0
-
10 – 100
1,5
1,5 – 2,0
2,0
-
100 – 1000
1,5 – 2,0
2,0
2,0 – 2,5
-
> 1000
-
2,0 – 2,5
2,5
2,5





*) LER dalam satuan angka ekivalen 8,16 ton beban sumbu tunggal.

Catatan:          Pada proyek-proyek penunjang jalan, JAPAT / jalan murah atau    jalan darurat maka IP dapat diambil 1,0.

Dalam menentukan indeks permukaan pada awal umur rencana (IPo) perlu diperhatikan jenis lapis permukaan jalan (kerataan / kehalusan serta kekokohan) pada awal umur rencana, menurut daftar VI di bawah ini:

Daftar VI
Indeks Permukaan Pada Awal Umur Rencana (IPo)
Jenis Permukaan
IPo
Roughness *) (mm/km)
LASTON
≥ 4
≤ 1000

3,9 – 3,5
> 1000
LASBUTAG
3,9 – 3,5
≤ 2000

3,4 – 3,0
> 2000
HRA
3,9 – 3,5
≤ 2000

3,4 – 3,0
> 2000
BURDA
3,9 – 3,5
< 2000
BURTU
3,4 – 3,0
< 2000
LAPEN
3,4 – 3,0
≤ 3000

2,9 – 2,5
> 3000
LATASBUM
2,9 – 2,5

BURAS
2,9 – 2,5

LATASIR
2,9 – 2,5

JALAN TANAH
≤ 2,4

JALAN KERIKIL
≤ 2,4


*)  Alat pengukur roughness yang dipakai adalah roughometer NAASRA, yang dipasang  pada kendaraan standar Datsun 1500 station wagon, dengan kecepatan kendaraan ± 32 km per jam.
Gerakan sumbu belakang dalam arah vertikal dipindahkan pada alat roughometer melalui kabel yang dipasang ditengah-tengah sumbu belakang kendaraan, yang selanjutnya dipindahkan kepada counter melalui "flexible drive”.
Setiap putaran counter adalah sama dengan 15,2 mm gerakan vertikal antara sumbu belakang dan body kendaraan. Alat pengukur roughness type lain dapat digunakan dengan mengkalibrasikan hasil yang diperoleh terhadap roughometer NAASRA.

2.5.             Koefisien Kekuatan Relatif (a)

Koefisien kekuatan relatif (a) masing-masing bahan dan kegunaannya sebagai lapis permukaan, pondasi, pondasi bawah, ditentukan secara korelasi sesuai nilai Marshall Test (untuk bahan dengan aspal), kuat tekan (untuk bahan yang distabilisasi dengan semen atau kapur), atau CBR (untuk bahan lapis pondasi bawah).
Jika alat Marshall Test tidak tersedia, maka kekuatan (stabilitas) bahan beraspal bisa diukur dengan cara lain seperti Hveem Test, Hubbard Field, dan Smith Triaxial.





Daftar  VII Koefisien Kekuatan Relatif (a)
Koefisien Kekuatan Relatif
Kekuatan Bahan

Jenis Bahan
a1
a2
a3
MS (kg)
Kt (kg/cm)
CBR (%)
0,40
-
-
744
-
-

0,35
0,35
-
-
-
-
590
454
-
-
-
-
Laston
0,30
-
-
340
-
-

0,35
-
-
744
-
-

0,31
0,28
-
-
-
-
590
454
-
-
-
-
Lasbutag
0,26
-
-
340
-
-

0,30
-
-
340
-
-
HRA
0,26
-
-
340
-
-
Aspal macadam
0,25
-
-
-
-
-
Lapen (mekanis)
0,20
-
-
-
-
-
Lapen (manual)
-
0,28
-
590
-
-

-
0,26
-
454
-
-
Laston Atas
-
0,24
-
340
-
-

-
0,23
-
-
-
-
Lapen (mekanis)
-
0,19
-
-
-
-
Lapen (manual)
-
-
0,15
0,13
-
-
-
-
22
18
-
-
Stab. Tanah dengan semen
-
-
0,15
0,13
-
-
-
-
22
18
-
-
Stab. Tanah dengan kapur
-
0,14
-
-
-
100
Batu pecah (kelas A)
-
0,13
-
-
-
80
Batu pecah (kelas B)
-
0,12
-
-
-
60
Batu pecah (kelas C)
-
-
0,13
-
-
70
Sirtu/pitrun (kelas A)
-
-
0,12
-
-
50
Sirtu/pitrun (kelas B)
-
-
0,11
-
-
30
Sirtu/pitrun (kelas C)
-
-
0,10
-
-
20
Tanah/lempung kepasiran

Catatan:      Kuat tekan stabilitas tanah dengan semen diperiksa pada hari ke-7. Kuat tekan stabilitas tanah dengan kapur diperiksa pada hari ke-21.




2.6.             Bafas-Batas Minimum Tebal Lapisan Perkerasan.


Daftar VIII
Batas-batas Minimum Tebai Lapisan Perkerasan
1.       Lapis Permukaan:
ITP
Tebal Minimum (cm)
Bahan
< 3,00
5
Lapis pelindung: (Buras/Burtu/Burda)
3,00 – 6,70
5
Lapen/Aspal Macadam, HRA, Lasbutag, Laston
6,71 – 7,49
7,5
Lapen/Aspal Macadam, HRA, Lasbutag, Laston
7,50 – 9,99
7,5
Lasbutag, Laston
≥ 10,00
10
Laston

2.       Lapis Pondasi:
ITP
Tebal Minimum (cm)
Bahan
< 3,00
15
Batu    pecah,    stabilitas    tanah    dengan    semen,


stabilitas tanah dengan kapur
3,00 – 7,49
20*)
Batu    pecah,    stabilitas    tanah    dengan    semen,


stabilitas tanah dengan kapur

10
Laston Atas
7,50 – 9,99
20
Batu    pecah,    stabilitas    tanah    dengan    semen,


stabilitas tanah dengan kapur, pondasi macadam

15
Laston Atas
10 – 12,14
20
Batu    pecah,    stabilitas    tanah    dengan    semen,


stabilitas  tanah  dengan  kapur,  pondasi  macadam,


Lapen, Laston Atas
≥ 12,25
25
Batu    pecah,    stabilitas    tanah    dengan    semen,


stabilitas  tanah  dengan  kapur,  pondasi  macadam,


Lapen, Laston Atas

3.       Lapis Pondasi Bawah:
Untuk setiap nilai ITP bila digunakan pondasi bawah, tebal minimum adalah 10 cm


2.7.             Pelapisan Tambahan

Untuk perhitungan pelapisan tambahan (overlay), kondisi perkerasan jalan lama (existing pavement) dinilai sesuai daftar di bawah ini:

Daftar IX
Nilai Kondisi Perkerasan Jalan





2.8.             Konstruksi Bertahap

Konstruksi bertahap digunakan pada keadaan tertentu, antara lain:
1.       Keterbatasan biaya untuk pembuatan tebal perkerasan sesuai, rencana (misalnya   :
20 tahun). Perkerasan dapat direncanakan dalam dua tahap, misalnya tahap pertama untuk 5 tahun, dan tahap berikutnya untuk 15 tahun.
2.       Kesulitan dalam memperkirakan perkembangan lalu lintas untuk (misalnya : 20 sampai 25 tahun). Dengan adanya pentahapan, perkiraan lalu lintas diharapkan tidak jauh meleset.
3.       Kerusakan setempat (weak spots) selama tahap pertama dapat diperbaiki dan direncanakan kembali sesuai data lalu lintas yang ada.



III.               PELAKSANAAN


3.1.             Analisa Komponen Perkerasan

Perhitungan perencanaan ini didasarkan pada kekuatan relatif masing-masing lapisan perkerasan jangka panjang, dimana penentuan tebal perkerasan dinyatakan oleh ITP (Indeks Tebal Perkerasan), dengan rumus sebagai berikut :

ITP      =          alD1 + a2D2 + a3D3

a1, a2, a3              =          Koefisien kekuatan relatip bahan perkerasan (daftar VII) D1, D2, D3                                =          Tebal masing-masing lapis perkerasan (cm).
Angka 1, 2 dan 3 : masing-masing untuk lapis permukaan lapis pondasi dan lapis pondasi bawah.

3.2.             Metoda Konstruksi Bertahap

Metoda perencanaan konstruksi bertahap didasarkan atas konsep "sisa umur". Perkerasan berikutnya direncanakan sebelum perkerasan pertama mencapai keseluruhan "masa fatique". Untuk itu tahap kedua diterapkan bila jumlah kerusakan (cumulative damage) pada tahap pertama sudah mencapai k.l. 60%. Dengan demikian "sisa umur" tahap pertama tinggal k.l. 40%.
Untuk menetapkan ketentuan di atas maka perlu dipilih waktu tahap pertama antara 25%-50% dari waktu keseluruhan. Misalnya : UR = 20 tahun, maka tahap I antara 5- 10 tahun dan tahap II antara 10-15 tahun.
Perumusan konsep "sisa umur" ini dapat diuraikan sebagai berikut:
a.       Jika pada akhir tahap I tidak ada sisa umur (sudah mencapai fatique, misalnya timbul retak), maka tebal perkerasan tahap I didapat dengan memasukkan lalu lintas sebesar LER1.
b.       Jika pada akhir tahap II diinginkan adanya sisa umur k.l. 40% maka tahap I perlu ditebalkan dengan memasukkan lalu lintas sebesar x LER1.
c.       Dengan anggapan sisa umur linear dengan sisa lalu lintas, maka: x LER1 = LER1 + 40% + LER1
(tahap I plus)(tahap I)(sisa tahap I) diperoleh x = 1,67.
d.      Jika pada akhir tahap I tidak ada sisa umur maka tebal perkerasan tahap II didapat dengan memasukkan lalu lintas sebesar LER2.
e.       Tebal perkerasan tahap I + II didapat dengan memasukkan lalu lintas sebesar y LER2. Karena 60 % y LER2 sudah dipakai pada tahap I maka:
y LER2 = 60% y LER2 + LER2
(tahap I+1I) (tahap I) (tahap II) diperoleh y = 2,5.
f.        Tebal perkerasan tahap II diperoleh dengan mengurangkan tebal perkerasan tahap  I + II (lalu lintas y LER2) terhadap tebal perkerasan I (lalu lintas x LER1).
g.       Dengan demikian pada tahap II diperkirakan ITP2 dengan rumus: ITP2 = ITP – ITP1
ITP didapat dari nomogram dengan LER = 2,5 LER1 ITP1 didapat dari nomogram dengan LER = 1,67 LER1



3.3.             Contoh Penggunaan Perencanaan

3.3.1.        Perencanaan Perkerasan Jalan Baru
A.     Lalu Lintas Rendah
Lihat contoh perhitungan, lampiran 3
B.     Lalu Lintas Tinggi
Lihat contoh perhitungan, lampiran 4
3.3.2.        Perencanaan Perkuatan Jalan Lama
(Pelapisan Tambahan atau Overlay) Lihat contoh perhitungan lampiran 5
3.3.3.        Perencanaan Konstruksi Bertahap Lihat contoh perhitungan, lampiran 6.

3.4.             Hasil Evaluasi dan Kesimpulan

Hasil dari penetapan ini dapat dibuat tabel-tabel yang sesuai dengan ruas jalan yang berisi data-data dan tebal perkerasan jalan, segmen tiap seksi masing-masing.

3.5.             Peta-peta Ruas Jalan

Hasil dari 3.1. dapat pula dicantumkan pada peta ruas jalan dengan keterangan- keterangan lain yang lengkap menunjukan tebal perkerasan tiap segmen dari ruas jalan.

3.6.             Gambar-gambar Teknis

Gambar-gambar susunan perkerasan, baik perkerasan lama maupun perkerasan batu dibuat dengan skala sebagai berikut:







 
....cm
....cm



....cm

....cm

CBR .....%

km ..... – km ......




Gambar 2
Tipikal Gambar Susunan Perkerasan



Lampiran 1






















Lampiran 2


Contoh Penentuan Harga CBR yang mewakili

Diketahui: Harga CBR = 3; 4; 3; 6; 6; 5; 11; 10; 6; 6; dan 4.
CBR
Jumlah yang sama atau lebih besar
Persen (%) yang sama atau lebih besar
3
11
11/11 x 100% = 100%
3
-
-
4
9
9/11 x 100% = 81,8%
4
-
-
5
7
7/11 x 100% = 63,6%
6
6
6/11 x 100% = 54,4%
6
-
-
6
-
-
6
-
-
10
2
2/11 x 100% = 18,2%
11
1
1/11 x 100% = 9,0%





Lampiran 3

Contoh Perencanaan Jalan Baru untuk Lalu Lintas Rendah

1.       Rencanakan:
Tebal perkerasan untuk jalan 2 jalur, data lalu lintas tahun 1981 seperti di bawah ini, dan umur rencana : a). 5 tahun ; b). 10 tahun.
Jalan dibuka tahun 1985 (i selama pelaksanaan = 5 % per tahun) FR = 1,0 dan CBR tanah dasar = 3,4%.

2.       Data-data:
Kendaraan ringan 2 ton...................................................................90 kendaraan
Bus 8 ton...........................................................................................3 kendaraan
Truk 2 as 10 ton ................................................................................2 kendaraan
----------------------------------------------------
LHR 1981 = 95 kendaraan/hari/2 jurusan Perkembangan lalu lintas (i) : ...............................................untuk 5 tahun = 8%
............................................................................................untuk 10 tahun = 6%
Bahan-bahan perkerasan:
-           pelaburan (lapis pelindung), Lapen Mekanis
-           batu pecah (CBR 50)
-           tanah kepasiran (CBR 20)

3.       Penyelesaian:
LHR pada tahun 1985 (awal umur rencana), dengan rumus : (1 + i)n Kendaraan ringan 2 ton..............................................................109,4 kendaraan
Bus 8 ton........................................................................................3,6 kendaraan
Truk 2 as 10 ton .............................................................................2,4 kendaraan

LHR pada tahun ke-5 atau ke-10 (akhir umur rencana): Rumus (1 + i)n
5 tahun                        10 tahun
Kendaraan ringan 2 ton
160,7 kendaraan
195,9 kendaraan
Bus 8 ton
5,3 kendaraan
6,4 kendaraan
Truk 2 as 10 ton
3,5 kendaraan
4,3 kendaraan

Menghitung angka Ekivalen (E) masing-masing kendaraan sebagai berikut: Kendaraan ringan 2 ton...............................................0,0002 + 0,0002 = 0,0004
Bus 8 ton.....................................................................0,0183 + 0,1410 = 0,1593
Truk 2 as 10 ton ..........................................................0,0577 + 0,2923 = 0,3500

Menghitung LEP

n
LEP = å LHR j x Cj x E j j=1
Kendaraan ringan 2 ton.......................................... 0,50 x 1,09 x 0,0004 = 0,022
Bus 8 ton.................................................................. 0,50 x 3,6 x 0,1593 = 0,287
Truk 2 as 10 ton ....................................................... 0,50 x 2,4 x 0,3500 = 0,420



----------------------------------------
LEP = 0,729

Menghitung LEA
-           5 tahun:
Kendaraan ringan 2 ton ................................. 0,50 x 160,7 x 0,0004 = 0,032
Bus 8 ton ........................................................... 0,50 x 5,3 x 0,1593 = 0,422
Truk 2 as 10 ton................................................. 0,50 x 3,5 x 0,3500 = 0,612
----------------------------------------
LEA5 = 1,066


-           10 tahun:
Kendaraan ringan 2 ton ................................. 0,50 x 195,9 x 0,0004 = 0,039
Bus 8 ton ........................................................... 0,50 x 6,4 x 0,1593 = 0,510
Truk 2 as 10 ton................................................. 0,50 x 4,3 x 0,3500 = 0,752
----------------------------------------
LEA10 = 1,301

Menghitung LET:
LET5 = ½ (LEP + LEA5) .............................................. ½(0,729 + 1,066) = 0,90
LET10 = ½ (LEP + LEA10) ........................................... ½(0,729 + 1,301) = 1,01

Menghitung LER:
LER= LETx UR/10............................................................0,90 x 5/10 = 0,45
LER10 = LET10 x UR/10 ........................................................1,01x 10/10 = 1,01

Mencari ITP:
CBR tanah dasar = 3,4% ; DDT = 4 ; IP = 1,5 ; FR = 1,0
LER5 = 0,45 .............................................................. ITP5 = 2,8(IPo = 2,9 – 2,5)
LER10  = 1,01............................................................ITP10  = 3,2(IPo = 3,4 – 3,0)


Menetapkan tabel perkerasan:
-           Koefisien kekuatan relatif:
o      Pelaburan = 0,00 = aLapen Mekanis = 0,25 = a1
o      Batu pecah (CBR 50) = 0,12 = a2
o      Tanah kepasiran (CBR 20) = 0,10 = a3 ITP = a1D1 + a2D2 + a3D3
-           UR = 5 tahun
2,8 = 0,12 D+ 0,10 D3
Batas minimum tebal lapisan untuk ITP = 2,8 2,8 = 0,12 D2 + 0,10 . 10 = 0,12 D2 + 1
D= 15 cm (minimum)
-           Susunan Perkerasan:
o      Pelaburan
o      Batu pecah (CBR 50) = 15 cm
o      Tanah kepasiran (CBR 20) = 10 cm










 
Pelaburan



15cm


10cm

Batu Pecah (CBR 50)

Tanah Kepasiran (CBR 20)



Tanah Dasar (CBR 3,4)



Gambar Susunan Perkerasan

-     UR = 10 tahun
3,2 = 0,25 D1 + 0,12 D2 + 0,10 D3
Batas minimum tebal lapisan untuk ITP = 3,2 Lapen Mekanis = 5 cm
Batu pecah (CBR 50) = 15 cm Tanah kepasiran (CBR 20) = 10 cm

3,2 = 0,25 . 5 + 0,12 . 15 + 0,10 . D= 3,05 + 0,10 D3
D3 = 1,5 cm diambil 10 cm (minimum)

-           Susunan Perkerasan:
o      Lapen Mekanis 5 cm
o      Batu pecah (CBR 50) = 15 cm
o      Tanah kepasiran (CBR 20) = 10 cm



m






 
5c 15cm
10cm

Lapen Mekanis
Batu Pecah (CBR 50) Tanah Kepasiran (CBR 20)



Tanah Dasar (CBR 3,4)


Gambar Susunan Perkerasan



Lampiran 4


Contoh Perencanaan Perkerasan Jalan Baru untuk Lalu Lintas Tinggi


1.       Rencanakan:
Tebal perkerasan untuk jalan 2 jalur, data lalu lintas tahun 1981 seperti di bawah ini, dan umur rencana : a). 10 tahun ; b). 20 tahun.
Jalan dibuka tahun 1985 (i selama pelaksanaan = 5 % per tahun)

2.       Data-data:
Kendaraan ringan 2 ton...............................................................1000 kendaraan
Bus 8 ton.......................................................................................300 kendaraan
Truk 2 as 13 ton .............................................................................50 kendaraan
Truk 3 as 20 ton ..............................................................................30 kendaraan
Truk 5 as 30 ton ..............................................................................10 kendaraan
----------------------------------------------------
LHR 1981 = 1390 kendaraan/hari/2 jalur

Perkembangan lalu lintas (i) : .............................................untuk 10 tahun = 8%
............................................................................................untuk 20 tahun = 6%
Bahan-bahan perkerasan:
-     Asbuton (MS 744)                              a= 0,35
-     Batu pecah (CBR 100)                       a= 0,14
-     Sirtu (CBR 50)                                    a= 0,12

3.       Penyelesaian:
LHR pada tahun 1985 (awal umur rencana), dengan rumus : (1 + i)n Kendaraan ringan 2 ton............................................................1215,5 kendaraan
Bus 8 ton....................................................................................364,7 kendaraan
Truk 2 as 13 ton ...........................................................................60,8 kendaraan
Truk 3 as 20 ton ...........................................................................36,5 kendaraan
Truk 5 as 30 ton ...........................................................................12,2 kendaraan

LHR pada tahun ke-10 atau ke-20 (akhir umur rencana), Rumus (1 + i)n


10 tahun
20 tahun
Kendaraan ringan 2 ton
2624,2 kendaraan
3898,3 kendaraan
Bus 8 ton
787,4 kendaraan
1169,6 kendaraan
Truk 2 as 13 ton
131,3 kendaraan
195,0 kendaraan
Truk 3 as 20 ton
78,8 kendaraan
117,1 kendaraan
Truk 5 as 30 ton
26,3 kendaraan
39,1 kendaraan

Setelah dihitung angka Ekivalen (E) masing-masing kendaraan sebagai berikut: Kendaraan ringan 2 ton...............................................0,0002 + 0,0002 = 0,0004
Bus 8 ton.....................................................................0,0183 + 0,1410 = 0,1593
Truk 2 as 13 ton ..........................................................0,1410 + 0,9238 = 1,0648
Truk 3 as 20 ton ..........................................................0,2923 + 0,7452 = 1,0375



Truk 5 as 30 ton ..................................................... 1,0375 + 2(0,1410) = 1,3195

Menghitung LEP:
Kendaraan ringan 2 ton...................................... 0,50 x 1215,5 x 0,0004 = 0,243
Bus 8 ton............................................................ 0,50 x 364,7 x 0,1593 = 29,046
Truk 2 as 13 ton ................................................... 0,50 x 60,8 x 1,0648 = 32,370
Truk 3 as 20 ton ................................................... 0,50 x 36,5 x 1,0375 = 18,934
Truk 5 as 30 ton ..................................................... 0,50 x 12,2 x 1,3195 = 8,048
----------------------------------------
LEP = 88,643

Menghitung LEA
-           10 tahun:
Kendaraan ringan 2 ton ............................... 0,50 x 2524,2 x 0,0004 = 0,525
Bus 8 ton ..................................................... 0,50 x 787,4 x 0,1593 = 62,717
Truk 2 as 13 ton........................................... 0,50 x 131,3 x 1,0648 = 69,904
Truk 3 as 20 ton............................................. 0,50 x 78,8 x 1,0375 = 40,878
Truk 5 as 30 ton............................................. 0,50 x 26,3 x 1,3195 = 17,350
----------------------------------------
LEA10 = 191,373


-           20 tahun:
Kendaraan ringan 2 ton ............................... 0,50 x 3898,3 x 0,0004 = 0,780
Bus 8 ton ................................................... 0,50 x 1169,6 x 0,1593 = 93,159
Truk 2 as 13 ton......................................... 0,50 x 131,3 x 1,0648 = 103,818
Truk 3 as 20 ton........................................... 0,50 x 117,1 x 1,0375 = 60,746
Truk 5 as 30 ton............................................. 0,50 x 39,1 x 1,3195 = 25,794
----------------------------------------
LEA20 = 248,297

Menghitung LET:
LET10 = ½ (LEP + LEA10) ...................................... ½(88,643 + 191,373) = 140
LET20 = ½ (LEP + LEA20) ...................................... ½(88,643 + 248,297) = 186

Menghitung LER:
LER10 = LET10 x UR/10 .........................................................140 x 10/10 = 140
LER20 = LET20 x UR/10 .........................................................186 x 10/10 = 372

Mencari ITP:
CBR tanah dasar = 3,4% ; DDT = 4 ; IP = 2,0 ; FR = 1,0
LER10  = 140..............................................................ITP10  = 7,7(IPo =3,9 – 3,5)
LER20  = 372.............................................................ITP20  = 8,8(IPo = 3,9 – 3,5)


Menetapkan tabel perkerasan:
-           UR = 10 tahun
ITP = a1D1 + a2D2 + a3D3



7,7 = 0,35 D1 + 0,14 . 20 + 0,12 . 10 = 0,35 D1 + 4 D= 10,5 cm
-           Susunan Perkerasan:
o      Asbuton (MS 744) = 10,5 cm
o      Batu pecah (CBR 100) = 20 cm
o      Sirtu (CBR 50) = 10 cm



m






 
10,5c


20cm


10cm


Gambar Susunan Perkerasan

Asbuton (MS 744) Batu Pecah (CBR 100)
Sirtu (CBR 50)

Tanah Dasar (CBR 3,4)



-           UR = 20 tahun
ITP = a1D1 + a2D2 + a3D3
8,8 = 0,35 D1 + 0,14 . 20 + 0,12 . 10 = 0,35 D1 + 4
D= 13,7 ≈ 14 cm
-           Susunan Perkerasan:
o      Asbuton (MS 744) = 14 cm
o      Batu pecah (CBR 100) = 20 cm
o      Sirtu (CBR 50) = 10 cm










 
14cm


20cm


10cm

Asbuton (MS 744) Batu Pecah (CBR 100)
Sirtu (CBR 50)

Tanah Dasar (CBR 3,4)



Gambar Susunan Perkerasan



Lampiran 5


Contoh Perencanaan Perkuatan Jalan Lama (Pelapisan Tambahan / Overlay)

1.       Rencanakan:
Tebal lapis tambahan jalan lama 2 jalur, data lalu lintas tahun 1990 seperti di bawah ini, dan umur rencana: a). 5 tahun; b). 15 tahun.
Susunan perkerasan jalan lama: Asbuton (MS.744) = 10,5 cm; Batu pecah (CBR 100) = 20 cm, Sirtu (CBR 50) = 10 cm.
Hasil penilaian kondisi jalan menunjukkan bahwa pada lapis permukaan asbuton terlihat crack sedang, beberapa deformasi pada jalur roda (kondisi 60%) akibat jumlah lalu lintas melebihi perkiraan semula. FR = 1,0.

Bahan lapis tambahan asbuton (MS.744).

2.       Data-data:
Kendaraan ringan........................................................................2000 kendaraan
Bus 8 ton.......................................................................................600 kendaraan
Truk 2 as 13 ton ............................................................................100 kendaraan
Truk 3 as 20 ton ............................................................................. 60 kendaraan
Truk 5 as 30 ton ..............................................................................20 kendaraan
------------------------------------
LHR 1990 = 2690 kend./hari/2 jurusan

Perkembangan lalu lintas (i) = .............................................untuk 5 tahun = 8%
............................................................................................untuk 15 tahun = 6%

3.       Penyelesaian:
LHR pada tahun ke-5 atau ke-15 (akhir umur rencana) rumus : (1 + i)n

5 tahun
15 tahun
Kendaraan ringan 2 ton
2938,6 kendaran
47931 kendaraan
Bus 8 ton
881,6 kendaraan
1437,9 kendaraan
Truk 2 as 13 ton
146,9 kendaraan
239,7 kendaraan
Truk 3 as 20 ton
88,2 kendaraan
143,8 kendaraan
Truk 5 as 30 ton
29,4 kendaraan
47,9 kendaraan

Setelah dihitung angka ekivalen (E) masing-masing kendaraan sebagai berikut: Kendaraan ringan........................................................0,0002 + 0,0002 = 0,0004
Bus 8 ton.....................................................................0,0183 + 0,1410 = 0,1593
Truk 2 as 13 ton ..........................................................0,1410 + 0,9238 = 1,0648
Truk 3 as 20 ton ......................................................... 0,2923 + 0,7452 = 1,0375
Truk 5 as 30 ton ..................................................... 1,0372 + 2(0,1410) = 1,3195

Menghitung LEP:
Kendaraan ringan.................................................. 0,50 x 2000 x 0,0004 = 0,400
Bus 8 ton............................................................... 0,50 x 600 x 0,1593 = 47,790
Truk 2 as 13 ton .................................................... 0,50 x 100 x 1,0648 = 53,240
Truk 3 as 20 ton ...................................................... 0,50 x 60 x 1,0375 = 31,125



Truk 5 as 30 ton ...................................................... 0,50 x 20 x 1,3195 = 13,194
------------------------------------
LEP = 145,749
Menghitung LEA: 5 tahun:
Kendaraan ringan............................................... 0,50 x 2938,6 x 0,0004 = 0,588
Bus 8 ton............................................................ 0,50 x 881,6 x 0,1593 = 70,219
Truk 2 as 13 ton ................................................. 0,50 x 146,9 x 1,0648 = 78,210
Truk 3 as 20 ton ................................................... 0,50 x 88,2 x 1,0375 = 45,754
Truk 5 as 30 ton ................................................... 0,50 x 29,4 x 1,3195 = 19,395
------------------------------------
LEA5 = 214,166
15 tahun:
Kendaraan ringan............................................... 0,50 x 4793,1 x 0,0004 = 0,959
Bus 8 ton........................................................ 0,50 x 1437,9 x 0,1593 = 114,529
Truk 2 as 13 ton ............................................... 0,50 x 239,7 x 1,0648 = 127,616
Truk 3 as 20 ton ................................................. 0,50 x 143,8 x 1,0375 = 74,596
Truk 5 as 30 ton ................................................... 0,50 x 47,9 x 1,3195 = 31,600
------------------------------------
LEA15 = 349,300


Menghitung LET:
LET5 = ½ (LEP + LEA5) ...................................... ½ (145,749 + 214,166) = 180
LET15 = ½ (LEP + LEA15) ................................... ½ (145,749 + 349,300) = 248

Menghitung LER:
LER= LETx UR/10................................................................180 x 5/10 = 90
LER15 = LET15 x UR/10 .........................................................248 x 15/10 = 372

Mencari ITP:
CBR tanah dasar 3,4% ; DDT = 4 ; IP = 2,0 ; FR = 1,0
LER5 = 90 ................................................................ ITP5 = 7,1 (IPo = 3,9 – 3,5)
LER15  = 372............................................................ITP15  = 8,8 (IPo = 3,9 – 3,5)

Menetapkan tebal lapis tambahan:
-          Kekuatan jalan lama:
Asbuton (MS.744) 10,5 cm                      = 60% . 10,5 . 0,35 = 2,2
Batu pecah (CBR 100) 20 cm                   = 100% . 20 . 0,14 = 2,8
Sirtu (CBR 50) 10 cm                               = 100% . 10 . 0,12 = 1,2
--------------------------------- ITP ada = 6,2
-          UR 5 tahun:
∆ ITP = ITP– ITP = 7,1 – 6,2 = 0,9
0,9 = 0,35 . D1.................................D1 = 2,6 ≈ 3 cm Asbuton (MS.744)
-          UR 15 tahun:
∆ ITP = ITP1– ITP ada = 8,8– 6,2 = 2,6
2,6 = 0,35 . D1..............................D1 = 7,4 ≈ 7,5 cm Asbuton (MS.744)



Lampiran 6


Contoh Perencanaan Konstruksi Bertahap

1.       Rencanakan:
Tebal perkerasan untuk jalan 2 jalur, data lalu lintas tahun 1981 seperti di bawah ini, dan umur rencana: a) 5 + 15 tahun ; b) 7 + 13 tahun.
Jalan dibuka tahun 1985 (i selama pelaksanaan = 5% per tahun) FR = 1,0 CBR tanah dasar = 3,4%

2.       Data-data:
Kendaraan ringan 2 ton............................................................= 1000 kendaraan
Bus 8 ton................................................................................... = 300 kendaraan
Truk 2 as 13 ton ...........................................................................= 50 kendaraan
Truk 3 as 20 ton .......................................................................... = 30 kendaraan
Truk 5 as 30 ton .......................................................................... = 10 kendaraan
-------------------------------------------------------
LHR 1981 = 1390 kendaraan/hari/2 jurusan
Perkembangan lalu lintas (i) = 5 % Bahan-bahan perkerasan:
Asbuton (MS.744)                        a= 0,35
Batu pecah (CBR 100)                 a= 0,14
Sirut (CBR 50)                              a= 0,12

3.       Penyelesaian:
LHR pada tahun 1985 (awal umur rencana), dengan rumus (1 + i)n
Kendaraan ringan 2 ton.........................................................= 1215,5 kendaraan
Bus 8 ton................................................................................ = 364,7 kendaraan
Truk 2 as 13 ton ........................................................................= 60,8 kendaraan
Truk 3 as 20 ton ....................................................................... = 36,5 kendaraan
Truk 5 as 30 ton ....................................................................... = 12,2 kendaraan

LHR pada tahun ke 5, 7, 20 (akhir pentahapan), rumus (1 + i)n


5 tahun
7 tahun
20 tahun
Kendaraan ringan 2 ton
1626,6
1827,7
3898,3 kendaraan
Bus 8 ton
488,0
548,4
1169,6 kendaraan
Truk 2 as 13 ton
81,4
91,4
195,0 kendaraan
Truk 3 as 20 ton
48,8
54,9
117,1 kendaraan
Truk 5 as 30 ton
16,3
18,3
39,1 kendaraan

Setelah dihitung angka Ekivalen (E) masing-masing kendaraan sebagai berikut: Kendaraan ringan 2 ton..............................................0,0002 + 0, 0002 = 0,0004
Bus 8 ton.................................................................... 0,0183 + 0,1410 = 0,1593
Truk 2 as 13 ton ..........................................................0,1410 + 0,9238 = 1,0648
Truk 3 as 20 ton ..........................................................0,2923 + 0,7452 = 1,0375
Truk 5 as 30 ton .................................................... 1,0375 + 2(0,1410) = 1,3195



Menghitung LEP:
Kendaraan ringan 2 ton...................................... 0,50 x 1215,5 x 0,0004 = 0,243
Bus 8 ton............................................................ 0,50 x 364,7 x 0,1593 = 29,046
Truk 2 as 13 ton ................................................... 0,50 x 60,8 x 1,0648 = 32,370
Truk 3 as 20 ton ................................................... 0,50 x 36,5 x 1,0375 = 18,934
Truk 5 as 30 ton .................................................... 0,50 x 12,2 x 1,3195 = 8,048
-------------------------------------------------------
LEP = 88,643

Menghitung LEA: 5 tahun
Kendaraan ringan 2 ton...................................... 0,50 x 1626,6 x 0,0004 = 0,325
Bus 8 ton............................................................... 0,50 x 488 x 0,1593 = 38,869
Truk 2 as 13 ton ................................................... 0,50 x 81,4 x 1,0648 = 43,337
Truk 3 as 20 ton ................................................... 0,50 x 48,8 x 1,0375 = 25,315
Truk 5 as 30 ton .................................................. 0,50 x 16,3 x 1,3195 = 10,754
-------------------------------------------------------
LEA5 = 118,600

Menghitung LEA: 7 tahun
Kendaraan ringan 2 ton...................................... 0,50 x 1827,7 x 0,0004 = 0,366
Bus 8 ton............................................................ 0,50 x 548,4 x 0,1593 = 43,680
Truk 2 as 13 ton ................................................... 0,50 x 91,4 x 1,0648 = 48,661
Truk 3 as 20 ton ................................................... 0,50 x 54,9 x 1,0375 = 28,479
Truk 5 as 30 ton .................................................. 0,50 x 18,3 x 1,3195 = 12,073
-------------------------------------------------------
LEA7 = 133,258

Menghitung LEA: 20 tahun
Kendaraan ringan 2 ton...................................... 0,50 x 3898,3 x 0,0004 = 0,780
Bus 8 ton.......................................................... 0,50 x 1169,6 x 0,1593 = 93,159
Truk 2 as 13 ton ............................................... 0,50 x 195,0 x 1,0648 = 103,818
Truk 3 as 20 ton ................................................. 0,50 x 117,1 x 1,0375 = 60,746
Truk 5 as 30 ton .................................................. 0,50 x 39,1 x 1,3195 = 25,794
-------------------------------------------------------
LEA20 = 248,297

Menghitung LET:
LET5 = ½ (LEP + LEA5) ........................................ ½ (88,643 + 118,600) = 104
LET7 = ½ (LEP + LEA7) ........................................ ½ (88,643 + 133,252) = 110
LET15 = ½ (LEA5 + LEA20) ................................. ½ (118,600 + 248,297) = 183
LET13 = ½ (LEA7 + LEA20) ................................. ½ (133,258 + 248,297) = 191

Menghitung LER:
LER5 = LET5 x UR/10................... 104 x 5/10 = 52                   1,67 LET5 = 87
LER7 = LET7 x UR/10................... 110 x 7/10 = 77                 1,67 LET7 = 129



LER15 = LET15 x UR/10 ............ 183 x 15/10 = 275                  2,5 LET15 = 688 LER13 = LET13 x UR/10 ............ 191 x 13/10 = 248                                 2,5 LET13 = 620

Mencari ITP:
CBR = 3,4 ; DDT = 4 ; IP = 2,0 ; FR = 1,0 ; IPo = 3,9 – 3,5
1,67 LET5 = 87 ........ ITP5 = 7,0        2,5 LER15 = 688 .................. ITP5+15 = 9,7
1,67 LET7 = 129 ...... ITP7 = 7,5        2,5 LER13 = 620 .................. ITP7+13 = 9,6

Menetapkan Tebal Perkerasan: UR = (5+15) tahun
ITP = a1D1 + a2D2 + a3D3
9,7 = 0,35 . D1 + 0,14 . 20 + 0,12 . 10 = 0,35 . D1 + 4
D= 16,3 ≈ 16,5 cm
Susunan Perkerasan:
o    Asbuton (MS.744) = 9 cm + 7,5 cm
o    Batu pecah (CBR 100) = 20 cm
o    Sirtu (CBR 50) = 10 cm



m









 
7,5c

9cm


20cm


10cm

Asbuton (MS 744)



Batu Pecah (CBR 100)


Sirtu (CBR 50)



Tanah Dasar (CBR 3,4)
Gambar Susunan Perkerasan

UR = (7 + 13) tahun
ITP = a1D1 + a2D2 + a3D3
9,6 = 0,35 . D1 + 0,14 . 20 + 0,12 . 10 = 0,35 . D1 + 4 D= 16 cm
Susunan Perkerasan:
o    Asbuton (MS.744) = 10 cm + 6 cm
o    Batu pecah (CBR 100) = 20 cm
o    Sirtu (CBR 50) = 10 cm



Gambar Susunan Perkerasan












 
6cm 10cm

20cm


10cm


Asbuton (MS 744)



Batu Pecah (CBR 100)


Sirtu (CBR 50)


Tanah Dasar (CBR 3,4)

Komentar